NALURI PEREMPUAN

April 9, 2008 at 9:09 am (CERPEN, NALURI PEREMPUAN)

Debby gemetaran ketika bersalaman. Satu hal yang di luar dugaannya adalah, Rico tak cuma tampan, tapi benar-benar luar biasa tampan. Debby sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa hari ini Rico akan pulang ke rumah.

Deb
by berkemas dengan cepat. Beberapa lembar pakaian dijejalkannya ke dalam tas plastik secara sembarangan. Di luar kamar, Mami ternyata sudah mencegatnya.
“Kau mau pergi dengan ninggalin kapal pecah seperti itu?”
Debby berpaling dengan sebal, memandang sekilas celana pendek dan handuk yang tergolek di atas kasur. Buku-buku masih berserakan di lantai, bersaing dengan kotak DVD dan kaset serta kertas tisu yang tercerai-berai.
“Bagaimana mungkin kamu bisa mengurus seorang bocah kalo ngurus diri sendiri aja nggak becus? Ampun, Deb, kamu ini udah gede. Harusnya mulai belajar banyak untuk jadi perempuan sejati. Perempuan yang bisa ngurus diri sendiri, ngurus rumah….”
“Perempuan sejati… ?” gumam Debby.

Dengan bersungut Debby mengemasi barang-barang yang berserakan itu dan menumpuk asal-asalan di sudut kamar. Mami mengawasinya sambil menggeleng-gelengkan kepala putus asa. Tak urung nanti dia sendiri yang akan membereskannya.
“Mami pasti senang, karena dua hari ini seisi rumah bakal rapi jali tanpa Debby.” Debby bersungut. “Atau justru kehilangan? Rindu? Hmmm, nggak usah nelpon-nelpon, ya!”
Mami menyembunyikan senyumnya. Ya, rumah akan terasa sepi tanpa Debby. Dua hari ini Debby akan tinggal di rumah keluarga Nikolas. Pak Nikolas, teman papi Debby itu, meminta tolong Debby untuk kesekian kalinya menjadi penjaga rumah. Bedanya kali ini, di rumah ada Alin. Pak dan Bu Nikolas akan pergi selama akhir pekan keluar kota, untuk urusan keluarga yang katanya sangat penting. Alin yang berusia tujuh tahun terpaksa tidak bisa ikut karena baru saja sembuh dari desentri.
“Kamu bisa jagain Alin selama dua hari aja, kan?” tanya Bu Nikolas tempo hari.
Debby terpaksa bilang iya, meski ia juga mengeluh dalam hati. Ia tahu persis siapa Alin. Memang tidak terlalu nakal, tapi bisa jadi akan sangat merepotkannya. Tapi Debby tak hendak menolaknya. Beberapa kali ia menjadi tenaga sukarela di rumah keluarga Nikolas, ia tak pulang dengan tangan hampa. Cuma pindah tidur dua hari saja, pulangnya saku Debby dijejali dengan beberapa lembar uang ratusan ribu. Sangat lumayan untuk bersombong diri mentraktir teman.

Ketika Debby tiba di rumah itu, Pak dan Bu Nikolas sudah bersiap diri, bahkan mobil sudah dihidupkan di halaman rumah. Alin nampak masih lemas, duduk di teras rumah mengawasi kesibukan kedua orangtuanya. Ia terlihat gembira ketika Debby menghampirinya.
“Just you and me, Lin!” sapa Debby.
Alin yang sejak kecil belajar berbahasa Inggris itu tersenyum lega.
“Can you play with me all night long?” bibir kecil itu berceloteh ringan, tak takut salah.
“Ups!” Debby memberi isyarat dengan telunjuknya. “Sssst, jangan sampai mereka tahu…,” bisik Debby sambil mengerling ke arah Bu Nikolas.
Alin tertawa senang.
Keduanya mengantar kepergian Pak dan Bu Nikolas.
Sesaat kemudian Debby menggampit Alin dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
“Well? Kamu mau apa dulu? Makan, berenang atau…?”
“Kata mama, kita nggak boleh keluar rumah. Lagian…”
“Oh ya, anak baik. Kamu harus beristirahat sebanyak mungkin. Jadi, gimana kalo kita habisin sore dan malam ini untuk nonton film kartun?”
Alin melonjak gembira ketika Debby memperlihatkan tujuh keping DVD yang dibawanya.
Sore menjelang gelap, mereka masih asyik di kamar besar yang serba lengkap dengan fasilitas itu. Kasur busa telah berpindah ke lantai, boneka-boneka besar segera berterbangan mencari sasaran.
Ini pekerjaan yang menyenangkan, batin Debby. Alin sangat mudah untuk ditaklukkan. Jangankan cuma dua hari, setahun bersama Alin pun Debby sanggup.
Debby mengejar Alin, mengincar kepalanya dengan boneka ulat bulu raksasa.
“Aduh, ramenya kalo dua anak kecil bercengkerama …”
WHUUUUAAAA ….!!!
Debby menjerit keras. Ia kaget bukan kepalang karena tiba-tiba seseorang telah berdiri di ambang pintu.
“Bang Rico!!!!” Alin melepaskan bonekanya dan melompat ke dalam gendongan cowok itu.
“Oo… my God! Jadi inikah manusia bernama Rico itu?” Batin Debby segera paham.

“Hai! Pasti kamu… Debby yang terkenal itu. Mama udah sering banget bercerita tentang kamu.” Cowok superganteng itu mengulurkan tangannya.
“Dan kamu pasti Rico, si sulung yang …” Debby meneruskan dalam hati, “Tampan, kuliah desain interior di Bandung dan nyaris nggak pernah pulang.”
Debby gemetaran ketika bersalaman. Satu hal yang di luar dugaannya adalah, Rico tak cuma tampan, tapi benar-benar luar biasa tampan. Debby sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa hari ini Rico akan pulang ke rumah.
Ini anugerah atau musibah?
Debby ingin saat ini juga memiliki keajaiban bisa menghilang. Tak terbayangkan betapa malunya tampil di depan cowok supertampan itu dalam keadaan superkusut, dengan kaus kedodoran dan celana superpendek yang warnanya sudah tak karuan lagi. Satu hal yang bisa dilakukannya adalah menyambar bed cover dan melilitkannya di pinggang untuk menyembunyikan celana pendek ajaibnya.
“Papa dan mama pergi ke Serang, kak Debby nemenin aku jaga rumah.” Alin menyelamatkan situasi dengan penjelasannya yang polos.
Rico masih melongo.
“Sampai kapan?”
“Minggu malam baru pulang,” jawab Debby.
“Ah, jadi percuma aku pulang! Padahal Minggu sore aku udah harus balik ke Bandung.”
“Tapi…” Debby kembali salah tingkah. “Kebetulan juga, karena kamu bisa menemani Alin yang sendirian.”
“Dan kamu?”
“Pulang,” lirih Debby. “Oh, melayanglah sekian ratus ribu itu.”
“JANGAN PULANG!!!!”
Alin melompat-lompat kesal di atas kasur yang tergolek di lantai.
“Kak Debby nggak boleh pulang! Kan janjinya mau nonton kartun sampai after midnight!”
“Tapi… bukankah sekarang udah ada abangmu? Kamu nggak sendirian lagi.”
Rico terbatuk. Batuk yang dibuat-buat. “Ya, kamu jangan pulang. Tugasmu harus kamu selesaiin karena malam ini aku punya rencana sendiri. Ada acara reuni SMA, dan untuk urusan itulah aku pulang. Mana mungkin aku datang bersama Alin.”
Debby tak yakin apakah pernyataan itu menguntungkannya atau justru sebaliknya.
Rico menengok arlojinya. “Sekarang aku mau mandi dan mungkin harus tidur sebentar supaya fresh. Tapi… uh? ALIN!!! TURUN DARI KASURKU!!!”

Brrrr! Debby gemetaran lagi. Baru kini ia sadari mereka berdua telah memporak-porandakan kamar. Dan kamar ini adalah kamarnya Rico.
“Sebaiknya kita pindah ke kamarmu sendiri, Lin.” Debby menarik tangan Alin dan mengajaknya keluar kamar. Ia menatap sebentar ke arah Rico. “Nanti aku beresin kamar ini seperti semula, Rico. Maaf kalo kamu jadi kesal. Mandilah dan selesai mandi, kamarmu siap kamu tempati lagi.”
Rico tersenyum lebar. Tulus. “Ya, kalian yang harus bertanggungjawab atas kamar ini.” Rico meraih selembar poster yang terlepas dan tergolek di lantai. “Oh ya! Deb…? Kamu bisa masak sesuatu buat aku? Sepanjang perjalanan aku menahan lapar. Harus ada yang masuk ke perutku, nih! Biasanya mama selalu siapin banyak bahan makanan di kulkas. Apa ajalah. Sup ayam, boleh juga. Favoritku bikinan mama. Selalu sup ayam yang kurindukan di rumah ini. Mudah-mudahan kamu bisa memasak sepintar mama.”
Debby melotot tanpa sepengetahuan Rico. Ia buru-buru menarik tangan Alin dan mengajaknya turun ke bawah. Ia menyambar tas plastik berisi pakaiannya yang ada di atas sofa. Di dalam kamar Alin, Debby segera merangkapi celana pendeknya dengan celana panjang. Debby berdiri di depan cermin dengan penuh rasa sesal. Pertama kali bertemu dengan cowok supertampan itu ia berpenampilan seperti gelandangan!
“Abangmu itu …”
“Tampan, ya?” Alin menukas dengan senyum genit. “Belum punya pacar, loh!”
“Bukan begitu, Non! Maksudku, untunglah ia nggak marah karena kamarnya udah kita rusak begitu rupa.”
“Dia anak yang baik, abang yang very-very nice.”
Dan apa jadinya, jika dua hari aku tinggal serumah dengan si very-very nice itu? Oh my God! Help me please…

“Deb…?” Kepala tampan itu mendadak menyembul dari balik pintu. “Aku udah nengok isi kulkas. Kamu bisa bikin sambal tomat? Yang pedes, yang pas buat nemenin sup ayam kita?”
“Iiiiy… iya… iya… beres. Mandilah dulu!”
SAMBAL TOMAT ???!!!
SUP AYAM ???!!!
Ketika sayup-sayup terdengar suara nyanyian Rico dari dalam kamar mandi, Debby segera menghambur ke pesawat telepon. Siapa lagi kalau bukan Mami yang menjadi tumpuan harapannya.
“MAMIII…!!!”
“Ada apa?” Dari seberang sana Mami terdengar agak cemas.
“Mam, aku udah siap bawa pulpen dan catatan. Please deh, diktekan resep untuk bikin sup ayam dan sambal tomat! Debby siap mencatat…”
“Loh? Apa susahnya sup ayam dan sambal tomat? Semua orang bisa masak itu. Keciiiil…!”
“MAMIII… !!!” Debby menjerit lagi, makin kesal. “DIKTEKAN RESEPNYA SEKARANG JUGA!!!”
Lebih dari lima menit, Debby mendengarkan dan mencatat setiap omongan maminya. Keringat bercucuran di pelipisnya.
“Cuma begitu? Udah semua?”
“Ya cuma begitu. Memasak bukan pekerjaan yang sulit. Kamu aja yang nggak pernah mau masuk dapur dan menganggap bahwa di jaman sekarang bisa memasak bukanlah kewajiban seorang perempuan lagi.”
Debby tak ingin berdebat. Waktunya tak cukup untuk itu. Ia sudah hampir beranjak membuka kulkas ketika tiba-tiba teringat sesuatu. Ia berbalik dan buru-buru memijit tombol redial di telepon.
“MAMIII …?!!!”
“Apa lagi? Kamu kemasukan setan penunggu rumahnya Pak Nikolas, ya?” Suara Mami terdengar kesal.
“Mami, gimana caranya memasang bed cover?”
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Debby makin keringatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: