KU BUAT MIMPI UNTUK DIDI

Maret 2, 2008 at 3:58 am (CERPEN, KU BUAT MIMPI UNTUK DIDI)

“Mi, apa-apaan sih kamu? Kenapa ngirimin formulir tanpa sepengetahuan aku? Kamu kok tega bener sama aku?”

Malam ini, di layar tv, aku melihat kamu berdiri di sebuah panggung bertabur bunga, ribuan fans meneriakkan namamu. Yah, malam ini adalah malam penentuan siapa yang akan menjadi pemenang dari kontes pencarian penyanyi idola baru Indonesia. Kamu terlihat begitu tegang Di, aku dapat merasakan itu.
***
Siang itu, sekitar 5 bulan yang lalu… aku berlari mengejarmu. Berusaha mensejajarkan langkah kakiku dengan langkahmu yang begitu cepat.
“Di, berita bagus nih!” Kataku ketika berhasil menyamai langkahmu.
“Berita apa? Gosip tentang si Indra mantan pacarmu itu?”
“Apaan sih? Aku serius Di, lihat ini.” Kusodorkan majalah yang baru saja kubeli semalam.
“Apaan nih? formulir kontes pencarian penyanyi idola baru Indonesia?” kubertanya tak mengerti.
“Iya Di, ini mimpimu kan? Lagian, kamu kan punya suara yang bagus banget, ayo dong isi formulirnya.”
“Nggak ah, aku udah cukup puas dengan apa yang kuraih saat ini, aku…” Kau tidak meneruskan ucapanmu, sepertinya ada yang kau sembunyikan dari aku.
“Kamu kok jadi nggak pede gini sih? Apa jeleknya kalo kamu ikut Di? Hitung-hitung membawa nama kota kita yang kecil ini.” Kusodorkan kembali majalah itu padamu, tapi sekeras apapun usahaku kamu tetap menolak, padahal aku bisa melihat betapa inginnya kamu mengikuti kontes ini… dari sinar matamu. Akhirnya, aku nekat mengirimkan formulir itu atas namamu keesokan harinya.

“Apa-apaan ini?” Kamu melemparkan sebuah amplop kehadapanku. Kubaca tulisan yang tertera di sana,
“Ya Tuhan!! Di, ini surat panggilan buat ngikutin audisi, tuh kan mereka manggil kamu… aku yakin ini jalan yang dikasih Tuhan ke kamu. Mimpimu bakalan jadi kenyataan!” Kataku gembira, namun sepertinya tidak begitu denganmu.
“Mi, apa-apaan sih kamu? Kenapa ngirimin formulir tanpa sepengetahuan aku? Kamu kok tega bener sama aku?”
“Di… Nggak usah pura-pura deh, aku tau kamu senang… sebenarnya, kenapa sih kamu nggak mau ngikutin audisi? Aku yakin nggak ada orang yang bisa ngalahin kamu dalam audisi nanti…” Tanyaku tak mengerti,
Kamu mencoba meredakan emosimu, dengan nafas yang masih terengah-engah, karena emosi.
“Mi, kamu itu sahabat aku sejak kecil, kukira kamu udah tau gimana keadaan keluargaku. Papaku udah nggak punya penghasilan apa-apa lagi selain uang pensiun yang diterima tiap bulan, itupun kadang-kadang nggak cukup, sehingga aku mesti rajin ikut festival buat nyari duit. Terus sekarang kamu nyuruh aku ikut audisi? Kamu pikir biaya buat ke sana nggak banyak? Sadar mi!!! Kita di Palu… di Sulawesi, lokasi audisi terlalu jauh, Jawa Mi! Jawa… aku nggak punya duit buat ke sana.”
Aku terdiam, Ya Tuhan kok pikiranku nggak ke situ yaa? batinku.

Sore itu aku mencarimu, ada surprise yang pingin aku kasih ke kamu, Tapi kata ibumu kamu lagi pergi ke bengkel.
“Ngapain Didi di bengkel tante?” Tanyaku pada tante Siti, ibumu.
“Kerja sambilan mi, nggak tau ngumpulin duit buat ngapain. Memang kamu nggak dikasih tau?”
“Nggak tante. Didi udah lama kerja dibengkel?” Tanyaku. Aku emang udah jarang ketemu kamu sejak pertengkaran kita tentang surat panggilan itu.
“Sudah hampir 2 minggu, Mi”
Aku terdiam, dalam hati aku bertanya-tanya kenapa ya tiba-tiba kamu kerja sambilan? Kususul kamu ke bengkel sore itu juga, disana kulihat kamu sedang asyik mengganti mengganti ban sebuah mobil.
“Di!!!” Teriakku, kamu menoleh dengan pipi kiri yang kotor.
“Mimi? Ngapain kamu kemari? Kok tau aku disini?”
“Kamu yang ngapain di sini? Kerja kok nggak bilang-bilang? Dua minggu nggak pernah hubungin aku, Dasar tega!!!” Aku mengomel, tapi kamu hanya tersenyum.
“Bukannya tega, aku cuman nggak mau ngerepotin kamu lagi,” Katamu sambil menerawang. Aku mencubit lenganmu,
“Tapi omong-omong kamu kerja buat ngapain sih?”
“Emm… aku mau membuat mimpi yang kamu beri untukku itu menjadi nyata, makanya aku berniat ngumpulin duit buat ke Jakarta. Selama ini kan kamu dah sibuk ngirimin formulir buat mewujudkan mimpi itu, so… kenapa aku nggak berusaha?” Katamu.
“Aku juga mau ngasih sesuatu buat kamu Di, mungkin ini bisa membantumu walaupun hanya sedikit.” Aku menyerahkan sebuah amplop coklat padamu, kamu membukanya,
“Mi? Ini?”
“Iya!! Aku kemarin ngecek saldo tabunganku tapi ternyata udah nggak banyak lagi makanya…” Aku memotong ucapanku, kemudian memperlihatkan sebuah kwitansi pada kamu.
“Mi!!!” Kamu menatapku, matamu berkaca-kaca….

Akhirnya kamu berangkat juga, aku hanya bisa mengantarmu di bandara dan membuatkanmu permen jahe untuk melegakan tenggorokanmu, biar usahamu bisa membawa hasil. Oh ya, saat itu aku sempat membisikkan sebuah pesan di telingamu.
“Wujudkan mimpimu Di, kamu harus bisa!! Ingat!! kalo kamu nggak berusaha dengan usaha kamu yang terbaik, itu berarti kamu bukan hanya menghancurkan mimpimu… tapi juga mimpiku.”
Pesawat yang membawa kamu, terbang dalam sekejap, meninggalkan aku yang memandangmu dengan sebuah doa. Ahh, selamat jalan Didi…
***
“Dan penyanyi idola baru Indonesia adalah……” Saat-saat mendebarkan tiba, kulihat kamu menutup mata…yaa malam ini adalah malam terakhir untuk menuju ke tangga teratas perjuanganmu, kamu telah berhasil melewati serangkaian eliminasi, bahkan kamu berhasil mendapatkan simpati fans dengan segala kesederhanaanmu, Malam ini sepertinya milik kamu Di.
“Seperti perkiraan semua orang, cowok manis ini memang sangat berbakat untuk menjadi penyanyi idola baru Indonesia dia adalah…” Host kontes itu, Ikhsan, mencoba membuat kita semakin penasaran dengan menggantung ucapannya.

“Aldi Fachriadi” Tiba-tiba saja namamu disebutkan, dan segera saja ruangan itu dipenuhi sorakan gembira, bahkan banyak fans yang meneriakkan namamu, aku pun tak kalah gembira…aku meloncat-loncat hingga vas kesayangan bunda pecah, tapi syukurlah bunda nggak jadi marah karena gembira ngeliatin kemenangan kamu.
Malam itu, kamu diberi kesempatan untuk ngucapin terima kasih kepada siapa saja yang membuat kamu berhasil. Ucapan terima kasihmu itu terlalu panjang, tapi aku sempat mengeluarkan air mata haru ketika mendengar sepotong kalimat yang kamu tujukan buatku.
“Buat sahabatku Mimi, thanks banget untuk bantuan dan dorongan semangat yang selama ini udah kamu berikan ke aku, terima kasih karena telah memberikan mimpi ini kepadaku, tanpa kamu aku nggak akan ada di sini.” Kamu mengakhiri ucapanmu dengan tersenyum, namun sempat kulihat beberapa tetes air bening menetes di pipimu.
***
“Mi, ada kiriman nih” Bunda mengetuk pintu kamarku.
“Kiriman apa bunda?” Tanyaku pada bunda, sambil tersenyum, bunda berkata,
“Dari Jakarta”.
Aku merampas bingkisan itu dari tangan bunda,
“Dari Didi… bunda” Kataku sambil membuka bungkusannya dan betapa kagetnya aku ketika mendapatkan sebuah hp kamera mungil,
“Didi…” Aku tak mampu berkata apa-apa lagi, yang lebih mengejutkan adalah kata-kata yang kamu tulis pada selembar kertas.

“Mi, thanks ya udah membantu aku meraih mimpi… oh ya, aku dah janji sama diriku sendiri kalo aku berhasil, aku bakalan gantiin hp yang kamu jual buat ongkos audisiku, dan kamu suka nggak sama hp pilihanku?…. oh ya, aku pingin nanya satu hal ke kamu, setelah kamu membantuku mengambil mimpiku, maukah kamu membantuku untuk meraih satu mimpi lagi? Mimpi untuk dicintai oleh kamu, MI…WOULD U BE MY GIRLFRIEND?”
Surat dari kamu menyisakan sebuah pertanyaan untuk kujawab, menyisakan sebuah mimpi baru untuk kita. Dan yang pasti, aku ingin membangun mimpi itu menjadi nyata…seperti mimpi-mimpi kita dahulu.

NB: Buat Didi, jangan menyerah masih banyak audisi yang menunggu kamu. Aku yakin kamu pasti bisa!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: