NALURI PEREMPUAN
Debby gemetaran ketika bersalaman. Satu hal yang di luar dugaannya adalah, Rico tak cuma tampan, tapi benar-benar luar biasa tampan. Debby sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa hari ini Rico akan pulang ke rumah.
Debby berkemas dengan cepat. Beberapa lembar pakaian dijejalkannya ke dalam tas plastik secara sembarangan. Di luar kamar, Mami ternyata sudah mencegatnya.
“Kau mau pergi dengan ninggalin kapal pecah seperti itu?”
Debby berpaling dengan sebal, memandang sekilas celana pendek dan handuk yang tergolek di atas kasur. Buku-buku masih berserakan di lantai, bersaing dengan kotak DVD dan kaset serta kertas tisu yang tercerai-berai.
“Bagaimana mungkin kamu bisa mengurus seorang bocah kalo ngurus diri sendiri aja nggak becus? Ampun, Deb, kamu ini udah gede. Harusnya mulai belajar banyak untuk jadi perempuan sejati. Perempuan yang bisa ngurus diri sendiri, ngurus rumah….”
“Perempuan sejati… ?” gumam Debby.
Dengan bersungut Debby mengemasi barang-barang yang berserakan itu dan menumpuk asal-asalan di sudut kamar. Mami mengawasinya sambil menggeleng-gelengkan kepala putus asa. Tak urung nanti dia sendiri yang akan membereskannya.
“Mami pasti senang, karena dua hari ini seisi rumah bakal rapi jali tanpa Debby.” Debby bersungut. “Atau justru kehilangan? Rindu? Hmmm, nggak usah nelpon-nelpon, ya!”
Mami menyembunyikan senyumnya. Ya, rumah akan terasa sepi tanpa Debby. Dua hari ini Debby akan tinggal di rumah keluarga Nikolas. Pak Nikolas, teman papi Debby itu, meminta tolong Debby untuk kesekian kalinya menjadi penjaga rumah. Bedanya kali ini, di rumah ada Alin. Pak dan Bu Nikolas akan pergi selama akhir pekan keluar kota, untuk urusan keluarga yang katanya sangat penting. Alin yang berusia tujuh tahun terpaksa tidak bisa ikut karena baru saja sembuh dari desentri.
“Kamu bisa jagain Alin selama dua hari aja, kan?” tanya Bu Nikolas tempo hari.
Debby terpaksa bilang iya, meski ia juga mengeluh dalam hati. Ia tahu persis siapa Alin. Memang tidak terlalu nakal, tapi bisa jadi akan sangat merepotkannya. Tapi Debby tak hendak menolaknya. Beberapa kali ia menjadi tenaga sukarela di rumah keluarga Nikolas, ia tak pulang dengan tangan hampa. Cuma pindah tidur dua hari saja, pulangnya saku Debby dijejali dengan beberapa lembar uang ratusan ribu. Sangat lumayan untuk bersombong diri mentraktir teman.
KU BUAT MIMPI UNTUK DIDI
“Mi, apa-apaan sih kamu? Kenapa ngirimin formulir tanpa sepengetahuan aku? Kamu kok tega bener sama aku?”
Malam ini, di layar tv, aku melihat kamu berdiri di sebuah panggung bertabur bunga, ribuan fans meneriakkan namamu. Yah, malam ini adalah malam penentuan siapa yang akan menjadi pemenang dari kontes pencarian penyanyi idola baru Indonesia. Kamu terlihat begitu tegang Di, aku dapat merasakan itu.
***
Siang itu, sekitar 5 bulan yang lalu… aku berlari mengejarmu. Berusaha mensejajarkan langkah kakiku dengan langkahmu yang begitu cepat.
“Di, berita bagus nih!” Kataku ketika berhasil menyamai langkahmu.
“Berita apa? Gosip tentang si Indra mantan pacarmu itu?”
“Apaan sih? Aku serius Di, lihat ini.” Kusodorkan majalah yang baru saja kubeli semalam.
“Apaan nih? formulir kontes pencarian penyanyi idola baru Indonesia?” kubertanya tak mengerti.
“Iya Di, ini mimpimu kan? Lagian, kamu kan punya suara yang bagus banget, ayo dong isi formulirnya.”
“Nggak ah, aku udah cukup puas dengan apa yang kuraih saat ini, aku…” Kau tidak meneruskan ucapanmu, sepertinya ada yang kau sembunyikan dari aku.
“Kamu kok jadi nggak pede gini sih? Apa jeleknya kalo kamu ikut Di? Hitung-hitung membawa nama kota kita yang kecil ini.” Kusodorkan kembali majalah itu padamu, tapi sekeras apapun usahaku kamu tetap menolak, padahal aku bisa melihat betapa inginnya kamu mengikuti kontes ini… dari sinar matamu. Akhirnya, aku nekat mengirimkan formulir itu atas namamu keesokan harinya.