Beruntungnya…
beruntungnya menjadi wanita………
dilahirkan sempurna
dilahirkan dengan kasih sayang
dilahirkan dengan rahmat-Nya
beruntungnya menjadi wanita…….
dikurniakan sebagai seorang penyayang
dikurniakan sebagai penyejuk mata
dikurniakan sebagai penawar duka
dikurniakan anugerah tak terhingga
untuk hadiah kaum adam didunia…
untungnya sebagai wanita…..
melahirkan perasaan tanpa rasa bersalah
sentiasa hilang rasa marah dengan mudah
melahirkan rasa simpati dan kasihan
tidak menipu parasaan yang ditanggunginya
tidak ego melahirkan rasa cintanya
untungnya sebagai wanita…..
meghargai apa yang ada di depan matanya
dia tahu kewajipannya
sentiasa lemah dalam pertimbangannya
mengharap bantuan dari yang perkasa
Baca entri selengkapnya »
KU BUAT MIMPI UNTUK DIDI
“Mi, apa-apaan sih kamu? Kenapa ngirimin formulir tanpa sepengetahuan aku? Kamu kok tega bener sama aku?”
Malam ini, di layar tv, aku melihat kamu berdiri di sebuah panggung bertabur bunga, ribuan fans meneriakkan namamu. Yah, malam ini adalah malam penentuan siapa yang akan menjadi pemenang dari kontes pencarian penyanyi idola baru Indonesia. Kamu terlihat begitu tegang Di, aku dapat merasakan itu.
***
Siang itu, sekitar 5 bulan yang lalu… aku berlari mengejarmu. Berusaha mensejajarkan langkah kakiku dengan langkahmu yang begitu cepat.
“Di, berita bagus nih!” Kataku ketika berhasil menyamai langkahmu.
“Berita apa? Gosip tentang si Indra mantan pacarmu itu?”
“Apaan sih? Aku serius Di, lihat ini.” Kusodorkan majalah yang baru saja kubeli semalam.
“Apaan nih? formulir kontes pencarian penyanyi idola baru Indonesia?” kubertanya tak mengerti.
“Iya Di, ini mimpimu kan? Lagian, kamu kan punya suara yang bagus banget, ayo dong isi formulirnya.”
“Nggak ah, aku udah cukup puas dengan apa yang kuraih saat ini, aku…” Kau tidak meneruskan ucapanmu, sepertinya ada yang kau sembunyikan dari aku.
“Kamu kok jadi nggak pede gini sih? Apa jeleknya kalo kamu ikut Di? Hitung-hitung membawa nama kota kita yang kecil ini.” Kusodorkan kembali majalah itu padamu, tapi sekeras apapun usahaku kamu tetap menolak, padahal aku bisa melihat betapa inginnya kamu mengikuti kontes ini… dari sinar matamu. Akhirnya, aku nekat mengirimkan formulir itu atas namamu keesokan harinya.